Showing posts with label lainya. Show all posts
Showing posts with label lainya. Show all posts

Monday, April 4, 2011

trailer riview kungfu panda 2

Riview singkat, dalam kungfu panda 2 ini po sekarang hidup damai sesuai dengan mimpinya sebagai dragon warior, dia hidup bersama the five furious seperguruanya dan juga shifu gurunya. namun kedamaian po terusik oleh datangnya musuh penjahat baru yang datang dengan menggunakan senjata baru yang tak terbendung, musuh ini berencana menghancurkan seluruh china dan juga seluruh kungfu. untuk mengalahkan musuhnya ini po harus kembali ke masa lalu dan menemukan rahasia yang berguna untuk mengalahkan musuh barunya ini. berikut adalah trailer kungfu panda 2.
review tambahan terbaru:
Dalam sekuel kedua film Kung Fu Panda, Po (Jack Black) telah berhasil mewujudkan impian sebagai pendekar sakti. Namun hal tersebut tak hanya menjadi kebanggan ayah dan penduduk valley of Peace, melainkan juga tugas bagi Po untuk selalu menjaga ketentraman dari segala kejahatan.

Tak sendiri, Po dibantu teman-teman yang tergabung dalam The Furious Five, Tigress ( Angelina Jolie ), Monkey ( Jackie Chan ), Mantis ( Seth Rogen), Viper ( Lucy Liu ), dan Crane ( David Cross) untuk menjaga valley of peace.

Po terus berlatih Kung Fu bersama Master Shifu (Dustin Hoffman) untuk meningkatkan ilmu kung fu. Sampai pada suatu waktu, desanya diserbu kumpulan bandit serigala yang mencuri semua logam di desanya untuk Lord Shen (Gary Oldman) yang sangat berambisi menaklukan China.

Po terganggu oleh simbol di baju besi salah satu serigala, yang membuat Po berkilas balik tentang kenangan bersama ibunya. Sampai akhirnya konsentrasi Po yang buyar tersebut membuar serigala berhasil melarikan diri. Po meminta ayahnya Mr Ping (James Hong) seekor angsa penjual mie tersebut untuk menjelaskan darimana dia berasal. Akhirnya Mr Ping menjelaskan bahwa Po adalah anak panda yang ditemukannya di sebuah peti lobak yang kemudian dia adopsi.

Selagi masalah keluarga yang membuat Po rindu akan keberadaan kedua orangtuanya melanda, Master Shifu mendapat kabar bahwa Guru Rhino (Victor Garber), pemimpin kung fu yang melindungi kota Gongmen, telah dibunuh Lord Shen dengan senjatanya, yang mana senjata ini juga akan mengancam tradisi kung fu.

Po dan The Furios Five pergi ke kota Gongmen untuk menghentikan kejahatan Lord Shen. Mereka menemukan dua ksatria yang dipenjara, yaitu Masters Storming Ox (Dennis haysbert) dan Croc (Jean Claude van Damme). Mereka meminta bantuan untuk bersama-sama membebaskan kota serta melawan senjata Shen. Namun, keduanya menolak dan memilih menjadi tawanan Shen.

Tak patah semangat, Po bersama the Furious Five melawan Shen bersama antek-anteknya dan juga menghancurkan senjata milik Shen. Shen tak sekuat penampakannya. Diam-diam dia takut po akan menggagalkan rencananya menjadi penguasa. Pasalnya, peramal kambing wanita The Soothsayer (Michelle Yeoh) mengatakan, Shen akan dikalahkan pendekar hitam-putih, yang diduga adalah Po.

Sutradara Jennifer Yuh Nelson, penulis naskah Jonathan Aibel dan Glen Berge, beserta tim sukes menggarap visual dan alur cerita yang baik, menarik, juga jenaka untuk penonton di semua kalangan usia.

Film animasi produksi Dreamworks Animation ini tersedia dalam format 3D dan 2D. Lalu, apakah Po berhasil mengalahkan Lord Shen dan menemukan jawaban tentang masa lalunya? Daripada penasaran, Anda bisa menyaksikan Kung Fu Panda 2 mulai 16 Agustus 2011.




Distributor: DreamWorks SKG
Diluncurkan:  2011-05-26
dibintangi oleh: Voices: Jack Black, Angelina Jolie, Dustin Hoffman, Jackie Chan, Seth Rogen, Lucy Liu, David Cross, James Hong, Gary Oldman, Michelle Yeoh, Jean-Claude Van Damme, Victor Garber
Disutradarai oleh: Jennifer Yuh
Produser: Melissa Cobb
Penulis: Jonathan Aibel, Glenn Berger
 

Gambar karakter kungfu panda 2 lengkap

berikut ini adalah gambar karakter-karakter kungfu panda 2 terbaru, beberapa adalah karakter baru sedangkan karakter lama masih po dan kawan-kawan seperguruan dan tentu saja di tambah shifu sang guru. karakter tambahan juga termasuk beberapa musuh mengambil indpirasi binatang yang jadi ciri khas seperti buaya, gorila, bison, dan juga merak.

Review tambahan terbaru:

Dalam sekuel kedua film Kung Fu Panda, Po (Jack Black) telah berhasil mewujudkan impian sebagai pendekar sakti. Namun hal tersebut tak hanya menjadi kebanggan ayah dan penduduk valley of Peace, melainkan juga tugas bagi Po untuk selalu menjaga ketentraman dari segala kejahatan.

Tak sendiri, Po dibantu teman-teman yang tergabung dalam The Furious Five, Tigress ( Angelina Jolie ), Monkey ( Jackie Chan ), Mantis ( Seth Rogen), Viper ( Lucy Liu ), dan Crane ( David Cross) untuk menjaga valley of peace.

Po terus berlatih Kung Fu bersama Master Shifu (Dustin Hoffman) untuk meningkatkan ilmu kung fu. Sampai pada suatu waktu, desanya diserbu kumpulan bandit serigala yang mencuri semua logam di desanya untuk Lord Shen (Gary Oldman) yang sangat berambisi menaklukan China.

Po terganggu oleh simbol di baju besi salah satu serigala, yang membuat Po berkilas balik tentang kenangan bersama ibunya. Sampai akhirnya konsentrasi Po yang buyar tersebut membuar serigala berhasil melarikan diri. Po meminta ayahnya Mr Ping (James Hong) seekor angsa penjual mie tersebut untuk menjelaskan darimana dia berasal. Akhirnya Mr Ping menjelaskan bahwa Po adalah anak panda yang ditemukannya di sebuah peti lobak yang kemudian dia adopsi.

Selagi masalah keluarga yang membuat Po rindu akan keberadaan kedua orangtuanya melanda, Master Shifu mendapat kabar bahwa Guru Rhino (Victor Garber), pemimpin kung fu yang melindungi kota Gongmen, telah dibunuh Lord Shen dengan senjatanya, yang mana senjata ini juga akan mengancam tradisi kung fu.

Po dan The Furios Five pergi ke kota Gongmen untuk menghentikan kejahatan Lord Shen. Mereka menemukan dua ksatria yang dipenjara, yaitu Masters Storming Ox (Dennis haysbert) dan Croc (Jean Claude van Damme). Mereka meminta bantuan untuk bersama-sama membebaskan kota serta melawan senjata Shen. Namun, keduanya menolak dan memilih menjadi tawanan Shen.

Tak patah semangat, Po bersama the Furious Five melawan Shen bersama antek-anteknya dan juga menghancurkan senjata milik Shen. Shen tak sekuat penampakannya. Diam-diam dia takut po akan menggagalkan rencananya menjadi penguasa. Pasalnya, peramal kambing wanita The Soothsayer (Michelle Yeoh) mengatakan, Shen akan dikalahkan pendekar hitam-putih, yang diduga adalah Po.

Sutradara Jennifer Yuh Nelson, penulis naskah Jonathan Aibel dan Glen Berge, beserta tim sukes menggarap visual dan alur cerita yang baik, menarik, juga jenaka untuk penonton di semua kalangan usia.

Film animasi produksi Dreamworks Animation ini tersedia dalam format 3D dan 2D. Lalu, apakah Po berhasil mengalahkan Lord Shen dan menemukan jawaban tentang masa lalunya? Daripada penasaran, Anda bisa menyaksikan Kung Fu Panda 2 mulai 16 Agustus 2011



















 


Monday, March 14, 2011

PSSI Main Pelintir dan Bohong


KETIKA saya masih menjadi reporter Jawa Pos sekitar 25 tahun lalu, ada satu kata yang atas perintah Bos Dahlan Iskan harus dihilangkan dari perbendaharaan kami, yaitu "tidak bisa". Saya ingat, waktu itu fasilitas di Jawa Pos masih sangat minim. Di Surabaya saja pamor Jawa Pos masih kalah dari kompetitor, apalagi di luar Jatim. Ketika saya kembali ke kampus UGM, masih banyak yang terheran-heran karena saya bekerja di koran yang bernama Jawa Pos. Sering ada pertanyaan yang menjengkelkan. Misalnya, koran tempatmu bekerja itu berbahasa Jawa, tah? Kalau ada pertanyaan itu, saya jawab sekenanya: Jawa Pos berbahasa Inggris, kok.
Jelas mereka tidak akan percaya. Sebagai wartawan generasi awal, saya beruntung karena masih dididik dan diawasi langsung oleh Big Boss Dahlan Iskan. Setiap sekian pekan, kami diajak berdiskusi dalam forum yang disebut Bengkel. Forum itu sebenarnya digunakan untuk transfer teknik reporting dari bos sendiri. Saya tidak tahu apakah kegiatan seperti itu masih dilaksanakan untuk reporter generasi sekarang. Sejak masuk DPR dan sekarang menjadi duta besar (dubes), saya belum pernah mendapatkan undangan untuk berbagi dengan junior saya. Namun, apa pun proses yang kami ikuti saat itu, kata "tidak bisa" atas tugas sesulit apa pun tidak boleh hilang dari ingatan kami. Kata itu pula yang menghantui saya ketika mendapatkan tugas yang berurusan dengan FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional). Terus terang, meski saya bertahun-tahun ditugaskan di luar negeri dan lama menjadi reporter, penugasan saya sebagai wartawan Jawa Pos hampir tidak pernah berurusan dengan olahraga, apalagi FIFA. Karena itu, ketika sahabat saya, Dr Andi Mallarangeng, yang sekarang menjadi Menpora, menelepon saya untuk mengklarifikasi ke FIFA mengenai kisruh PSSI, saya sempat tercenung: apa bisa? Untung, sikap bawah sadar saya yang mendarah daging sejak menjadi reporter Jawa Pos segera menggerakkan hati saya: Tidak ada kata "tidak bisa" bagi wartawan Jawa Pos. Itu juga berlaku bagi duta besar yang mengawali kariernya sebagai wartawan di Jawa Pos. Terus terang, sebelumnya saya buta soal PSSI dan FIFA. Namun, akhirnya saya mengerti dan memahaminya dengan baik. Ketika saya bongkar-bongkar, masalahnya makin menantang sekaligus menjawab sebagian pertanyaan dalam hati saya selama ini: kenapa pengurus PSSI jika wira-wiri ke Zurich (kantor pusat FIFA) tidak sekali pun mengontak KBRI? Mungkin mereka akan berurusan dengan KBRI kalau kehilangan paspor saja. Padahal, personel cabang olahraga lain, entah Percasi, PBSI, dan lain-lain, bila punya kegiatan di mana pun di wilayah Swiss akan memberi tahu KBRI. Saya makin tertantang untuk menguak misteri PSSI dan FIFA itu. Apalagi, setelah cek dan ricek terhadap sejumlah teman di media menyatakan bahwa ada pejabat PSSI yang sering bohong belaka. Saya pun bertekad melaksanakan misi dengan baik dan profesional. Apalagi, e-mail, pesan Facebook, atau SMS yang saya terima dari teman-teman di Surabaya berisi dukungan. Saya yakin, pasti ada manfaat bagi masyarakat jika persekongkolan yang mengakibatkan prestasi sepak bola Indonesia terjerembap dan makin terpuruk ke posisi yang menyedihkan dibongkar. Sebagai Dubes, saya tidak mengalami kesulitan untuk minta waktu berkunjung ke FIFA. Apalagi, sesungguhnya gelar tersebut secara resmi sangat hebat: Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia. Artinya, saya membawa kuasa penuh atas nama pemerintah dan bangsa Indonesia. Jelas pihak FIFA pun mengetahui hal itu. Mereka juga tahu tentang tata krama diplomatik. Kalau mengirim surat pun, mereka tidak akan lupa menambahkan singkatan gelar HE atau his excellency (yang mulia).


Saya sebenarnya risi digelari his excellency. Tapi, ya mau bagaimana lagi, masalah itu sudah baku dalam tata pergaulan diplomatik. Yang pertama saya lakukan setelah mendapatkan kontak dengan FIFA ialah memetakan masalah. Setelah saya urai benang kusut yang ada, ternyata memang yang menjadi masalah adalah statuta PSSI. Orang di PSSI berkukuh bahwa sudah tidak ada masalah pada statuta tersebut karena sudah disahkan oleh FIFA. Namun, pihak penentang menganggap pengesahan itu penuh rekayasa. Setelah saya mempelajari secara saksama, ada kecenderungan pengurus PSSI berlindung ke FIFA jika menguntungkannya dan mengabaikan FIFA bila tidak sesuai dengan maunya. 


Pangkal kisruh pertama memang pasal 35 ayat 4 yang dalam bahasa Inggris berbunyi "The members of the executive committees must not found guilty of criminal offence". Terjemahan wajarnya "Anggota komite eksekutif tidak pernah terbukti melakukan tindakan pidana." Namun, ayat yang mudah dimengerti itu dipelintir dengan adanya tambahan "tidak sedang ditemukan melakukan kejahatan ketika kongres". Ya, tentu saja jauh panggang dari api. Jadi, menurut statuta PSSI, asal selama kongres "yang normalnya berjalan tiga hari" seorang calon tidak sedang diperiksa polisi atau jaksa karena suatu kejahatan, dia bisa menjadi calon sekalipun pernah dipenjara dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Ketika menemui para petinggi FIFA, saya agak jengkel sebab mereka sejak 2007 membiarkan terjemahan yang ngawur itu. "You don't understand Indonesian language. Why do you in FIFA accept the wrong translation like that?" protes saya kepada seorang pejabat FIFA. Dengan enteng dia menjawab, "Sorry, Indonesian language is not the official language here." 


Belakangan, yang saya tahu, direktur FIFA itu sudah digarap oleh orang-orang PSSI. Hal tersebut membuat saya makin sebal sebab jutaan orang Indonesia yang memahami bahasa Inggris dengan baik menjadi tampak bodoh saat membaca terjemahan statuta FIFA versi PSSI itu. Saya sempat meminta semua staf diplomat saya, yang umumnya memiliki nilai TOEFL di atas 600, untuk menerjemahkan statuta FIFA. Hasilnya sama dengan saya dan menyalahkan versi PSSI. Tetapi, memang orang PSSI bisa berjaya dengan pelintiran tersebut selama empat tahun karena ada orang-orang FIFA yang bisa digarap. Atas semua manipulasi itu, tekad saya untuk mengungkap borok-borok yang selama ini ada di PSSI makin kuat. Keyakinan saya terbukti juga ketika FIFA menggelar konferensi pers mengenai berbagai masalah, termasuk PSSI, 3 Maret lalu. Saya sengaja mengirim dua warga saya untuk melihat langsung dan memonitor apa yang terjadi di FIFA. Masalahnya, menurut laporan teman-teman wartawan, PSSI mengirim pengurusnya. Bahkan, pengurus tersebut kepada seorang wartawan mengaku duduk persis di depan Presiden FIFA Sepp Blatter. Segera saya kontak dua warga saya tersebut untuk memastikan kebenaran itu. Salah seorang warga saya langsung melapor, "Di ruang ini, orang Asia hanya tiga. Selain kami berdua, ada satu orang Jepang." Dia pun memotret suasana konferensi pers dan memastikan tidak ada wajah Indonesia selain keduanya. Besoknya, Jumat siang, masuk laporan kepada saya dari kawan wartawan di Jakarta bahwa pengurus yang mengaku Kamis sore duduk di depan Sepp Blatter itu sudah berada di sekitar Senayan. Itu jelas tidak masuk akal sebab pesawat yang terbang malam dari Zurich adalah Emirates dan tiba di Jakarta pukul enam sore. Bagaimana mungkin pengurus PSSI yang sering diwawancarai wartawan itu Jumat siang sudah ada di Jakarta? Apa dia punya ilmu ngrogoh sukma sehingga bisa berada di banyak tempat dalam waktu yang sama? Kebohongan itu makin lengkap ketika Minggu, saat ditelepon teman wartawan lain, dia mengaku sedang berada di Milan dan siap pergi ke Zurich lagi untuk mewakili PSSI. Saya tidak habis heran, bagaimana seorang pengurus teras organisasi olahraga besar bisa berbohong secara kontinu. Sayang, selama ini banyak di antara kita yang tidak sadar dengan kebohongannya. *) Djoko Susilo dubes indonesia untuk swis (diambil dari harian jawapos)

Kekuatan Lobi Zurich yang Merusak (kebohongan PSSI)


NAMA resmi FIFA adalah Federation Internationale de Football Association atau dalam bahasa Inggris ialah International Federation of Association Football. Jadi, sesungguhnya nama FIFA lebih terkenal dalam bahasa Prancis, persis ketika didirikan pada 1907 di Paris.


Kepanjangan FIFA tidak pernah berubah baik dalam bahasa Prancis maupun bahasa Inggris. Oleh karena itu, beberapa bulan lalu ketika ada kabar lewat PSSI bahwa FIFA menegur dan mengancam Indonesia karena digelarnya LPI (Liga Primer Indonesia) segera saja publik heboh dengan informasi bahwa surat itu palsu. Saya tidak melihat surat yang dianggap palsu itu. 


Tetapi, dari berbagai berita, misalnya dari analisis grammar bahasa Inggris dan yang lebih fatal lagi kepanjangan FIFA adalah Federation International Football Association, itu menunjukkan pembuat surat keterlaluan ngawurnya. Pertama, dia tidak mengerti kepanjangan FIFA. 


Kedua, bahasa Inggrisnya pas-pasan dan malahan mungkin tidak pernah ke kantor FIFA di Zurich, Swiss. Siapa pun yang pernah masuk ke kantor FIFA yang megah di kawasan Sonenberg, Zurich, rasanya tidak mungkin menulis kepanjangan FIFA sampai salah. Saya tidak tahu jika pengurus PSSI yang wira-wiri ke sana sampai tidak pernah memperhatikan kepanjangan FIFA yang benar itu. Rasanya, tidak mungkin Sekjen FIFA Jerome Valcker yang asli Prancis dan Thierry Regennas, pejabat FIFA urusan asosiasi dan perkembangan yang asli Swiss, salah menulis kepanjangan FIFA. Dilahirkan di Paris pada 1907, wajar jika suasana Prancis masih terasa kental di dalam organisasi tersebut. Jika para petinggi FIFA dan para tamunya bersantap siang atau bersantap malam, mereka biasanya ke restoran FIFA Club Sonenberg di Hitzigweg 15, CH-8032 Zurich, yang salah satu menu andalannya adalah menu Prancis.


 Bahasa Prancis masih dominan dan mereka kadang-kadang mengira tamunya, khususnya dari Indonesia, seperti saya, tidak mengerti bahasa Prancis. Sikap sok Prancis para petinggi FIFA itulah yang saya alami ketika saya memperbincangkan nasib Nurdin Halid dengan Presiden FIFA Sepp Blatter. Tiba-tiba ada oknum yang menginterupsi dalam bahasa Prancis. Dia baru agak mundur teratur dan tidak banyak campur tangan ketika menyadari bahwa rombongan kami juga mengerti bahasa Prancis. Dari interupsinya itu, saya mengerti bahwa Blatter diminta untuk tidak banyak berbicara soal Nurdin Halid. Situasi itu sangat merisaukan saya. Itu berarti lobi penguasa PSSI sangat intensif di lingkungan FIFA, sementara para pengkritik pengurus PSSI sama sekali tidak punya akses ke FIFA. Pantas, selama ini kalau mereka ke kantor FIFA di Zurich sekali pun tidak pernah kontak ke KBRI. Tampaknya, ada sesuatu yang dijaga secara khusus oleh pihak PSSI sehingga jalur komunikasi dengan pejabat FIFA itu hanya eksklusif untuk mereka. Bukan hanya itu, mereka juga ingin memonopoli tafsir informasi yang keluar dari FIFA. 



Dengan kata lain, kalau ada instruksi atau informasi FIFA yang menguntungkan mereka, itu akan digunakan dan disebarkan seluas-luasnya. Tetapi, jika ada surat atau ketentuan yang tidak mengenakkan pengurus PSSI, mereka akan membungkus dan menyimpan serapat-rapatnya. Salah satu yang paling nyata adalah soal surat FIFA pada Juni 2007 yang di situs resmi FIFA saja hingga sekarang bisa dibaca. Di sana disebutkan, FIFA sudah mengirimkan surat kepada PSSI agar menggelar kongres ulang dan memperbaiki statuta PSSI. Meski sudah jelas-jelas ada dan juga diakui para petinggi FIFA, ketika saya berkunjung ke sana, para pengurus PSSI mati-matian membantah. Namun, kemudian mereka mengakui ada perintah KLB (kongres luar biasa) di Ancol pada 2009 yang melanggengkan kekuasaan Nurdin Halid dan mempertahankan status quo. Dari cerita sejumlah teman yang sampai ke saya, ternyata KLB di Ancol saat itu penuh rekayasa. Salah satu di antaranya, pejabat FIFA yang ditugasi untuk menjadi pengawas ibaratnya memberikan cek kosong kepada pengurus PSSI. Teman-teman wartawan yang mencoba mewawancarai perwakilan FIFA dihalang-halangi dan pejabat FIFA itu sendiri menolak berbicara dengan wartawan. Jadi, selain memberikan cek kosong kepada pengurus PSSI, dia seperti sudah dikondisikan untuk membenarkan apa saja yang diputuskan PSSI. Dalam konteks tersebut, kongres PSSI yang akan digelar April nanti menjadi tidak berarti dan kisruh manakala pengawas dari FIFA dan AFC bukan pejabat yang netral. Kekhawatiran itu bukan tidak mengada-ada karena masih ada usaha-usaha mengegolkan Nurdin Halid dengan berbagai cara.


Hingga kini, pengurus PSSI masih kukuh bahwa kongres akan dilaksanakan sesuai dengan aturan main PSSI yang katanya sudah disetujui FIFA. Masalahnya, selama ini FIFA sangat sensitif dengan apa saja koreksi yang dilakukan pemerintah. Jika seorang menteri atau saya selaku Dubes mengingatkan FIFA bahwa terjadi KKN di lingkungan PSSI, mereka akan memberikan warning agar kita stay away. "Di lingkungan sepak bola di bawah naungan FIFA, haram adanya campur tangan pemerintah,"kata Alexander Koch, pejabat Humas FIFA, ketika saya bertandang ke markasnya Selasa lalu. Sekalipun saat ini PSSI masih memakai nama PSSI (Indonesia)?  dan menerima dana negara melalui APBN dan di klub-klub di daerah masih menerima anggaran lewat APBD, sikap FIFA keras terhadap apa yang dianggapnya campur tangan pemerintah. Jadi, jika Menpora Andi Mallarangeng mengancam akan "menyemprit' PSSI seandainya melenceng dari statuta dan kode etik FIFA, itu tetap akan dianggap sebagai bentuk campur tangan pemerintah. Pengurus PSSI akan melapor ke Zurich bahwa mereka dizalimi pemerintah dan juga media massa. Ketika salah seorang petinggi FIFA saya konfrontasi dengan fakta bahwa PSSI pernah dipimpin dari balik jeruji penjara selama beberapa tahun, dia mengelak." Semuanya sudah diselesaikan dalam kongres pada 2009 di Jakarta," kata pejabat yang saya dengar juga bakal hadir lagi di kongres PSSI bulan depan.


Memang, bagi yang belum pernah ke markas FIFA di Zurich, Anda akan mengalami pengalaman yang menyenangkan. Begitu masuk ke hall utama, Anda akan disambut oleh sejumlah pegawai yang ramah dan menyenangkan. Ruangannya sangat luas dan tertata dengan rapi. Arsitekturnya begitu indah dan didesain menerima cahaya yang memadai. Meski musim dingin seperti sekarang ini, di ruangan FIFA terasa hangat. Bahkan, karena pengunjung berasal dari banyak negara, di salah satu sudutnya ada meditation room yang pada praktiknya banyak digunakan untuk salat. Saya lihat ada beberapa lembar sajadah di sana yang terlipat rapi. Saya kira, pengurus PSSI kalau ke FIFA lebih sibuk bertemu dengan Jerome Valcke, sekretaris jenderal FIFA, dan Thierry Regennas, direktur asosiasi sepak bola dan perkembangan. Selama ini tidak banyak yang mempertanyakan apa saja yang disampaikan FIFA kepada PSSI. Dengan dana organisasi, mereka bisa memonopoli informasi sesuai dengan seleranya. Bahkan, saking pedenya, kadang pengurus PSSI tidak memperhatikan bahwa informasi itu tidak selaras dan menunjukkan inkonsistensi FIFA. Misalnya, mengenai surat FIFA bertanggal 6 Maret 2009 yang mengakui kepengurusan Nurdin Halid (bahkan sebelum KLB digelar di Hotel Mercure, Ancol). Sebagaimana ditulis di sebuah media yang kutipannya sebagai berikut: "We are pleased to inform you that FIFA can agree to allow PSSI's current leadership to continue its work until the end of the present mandate which shall expire in the year 2011, provided that FIFA conform statutes are indeed ratified by the end of April 2009"
Demikian bunyi surat yang diteken Sekjen FIFA Jerome Valcke. Yang menjadi masalah, surat itu bertanggal 6 Maret 2009 sehingga sesungguhnya FIFA sudah memberikan pengakuan sebelum kongres dilaksanakan pada 19-20 April 2009. Terus terang saja, atas fakta itu, sesungguhnya para petinggi FIFA agak malu ketika saya uber dengan pertanyaan mengapa mereka tidak konsisten. Ini sangat memalukan bagi orang Swiss yang terkenal efisien, correct, dan berpegang teguh kepada kaidah hukum dan etika. Oleh karena itu, mereka ingin menyudahi drama PSSI secepatnya. Namun, sayangnya tidak dijamin bahwa hal itu di lapangan (ketika kongres) bisa berjalan sesuai dengan harapan publik.


Ada dua persoalan yang membuat Nurdin Halid cs masih terus bercokol. Pertama, mereka akan mati-matian berjuang bahwa statuta PSSI yang membolehkan mantan napi bisa memimpin PSSI sudah disahkan FIFA dalam KLB di Ancol. Toh, selama empat tahun Nurdin tidak diganggu oleh FIFA. Kubu Nurdin akan mati-matian bertahan, setidaknya mengajak barter. Jika dia amblas, pihak lawannya juga disapu bersih. Atau, setidaknya jika lawannya yang menang, dia mendapat hadiah hiburan untuk didukung menjadi ketua AFF (Asosiasi Sepak Bola ASEAN). Kedua, ada faktor lain yang menguntungkan Nurdin cs, yakni Muhammad bin Hammam, ketua AFC atau Federasi Sepak Bola Asia, mungkin akan bertarung dengan Blatter dalam kongres Juni nanti. Dengan demikian, dia sangat berkepentingan dengan suara siapa yang memimpin PSSI. Selama ini Nurdin cs sudah terbukti sebagai sekutu yang setia. Misalnya, ketika pemilihan ketua AFC di Kuala Lumpur pada 8 Mei 2009, Nurdin menunjukkan kesetiaannya dengan mendukung Hammam sehingga menang tipis 23 melawan 21 atas Sheikh Salman bin Khalifa dari Bahrain. Menurut informasi, Bin Hammam akan hadir dalam kongres PSSI di Bali nanti. Bahkan, saking kuatnya hubungan dia dengan sejumlah pengurus teras PSSI, tadinya tempat kongres yang sudah disetujui di Bintan dipindah ke Bali hanya agar Hammam tidak repot mendaratkan pesawatnya. Semua orang sudah tahu dekatnya hubungan Hammam dengan pengurus PSSI. Sebaliknya, para pengkritik PSSI tidak atau kurang dikenal oleh Bin Hammam. Penyelesaian PSSI sangat rumit jika para pengurus PSSI sekarang ini tidak disadarkan hati nuraninya bahwa apa yang mereka lakukan bisa merugikan kepentingan nasional. Hanya karena ngotot ingin terus berkuasa, mereka melakukan segala daya upaya. Alangkah baiknya jika mereka meniru para seniornya, Bardosono, Ali Sadikin, Kardono, Azwar Anas, Syarnubi Said, dan lain lain, yang mengundurkan diri tanpa dipaksa dan didemo. Jika mereka mencintai sepak bola nasional, semua yang menjadi penguasa PSSI sekarang ini harus diganti dengan wajah segar yang tidak terkontaminasi oleh kepentingan politik atau finansial jangka pendek. Jadi, mari kita awasi bersama kongres yang tahapannya segera dimulai dalam beberapa minggu ke depan. *) Djoko Susilo (diambil dari jawapos)